Pages

Wednesday, August 11, 2010

Savir Biru part 4

"Ada apa sayang." cemas Bunda, "Kamu kenapa, mimpi buruk yah?" Mengelus rambut Rhein.
"Hah???!!!"
"Kamu mimpi buruk?" tanya Bunda lagi.
Rhein tak berkata-kata, hanya gelengan kepalanya saja yang dapat membuat bunda mengerti kalau dia baik-baik saja (mungkin). Dalam hatinya Rhein bersyukur ternyata kejadian yang baru saja dialaminya hanya sekedar mimpi. Tapi rasa takut yang begitu hebat masih menghampirinya. Entah pikirannya yang mana di dalam otaknya yang dapat membuat mimpi yang sedemikian menegangkan baginya.
"Ya sudah, kalau kamu merasa baikan. Lebih baik kamu tidur lagi. Tenangkan pikiranmu. Bunda pergi ke kamar yah. Selamat tidur sayang." Ucap Bunda sesaat sebelum meninggalkan Rhein sendiri di kamarnya.
Rhein tak  berani menutup matanya. Ia takut jika matanya terpejam maka kembali ke dunia mimpi, maka mimpinya yang menegangkan tadi akan kembali dan menghantuinya. Sebegitu takutnya kah Rhein?

Keesokan paginya...
"Rhein, matamu kenapa sayang?" tanya Bunda ketika melihat mata Rhein yang sembab. "Rhein menangis?!" tebak Bunda. Rhein hanya menggeleng lalu mengambil roti isi cokelat dan kemudian duduk dan makan dengan tenang.
"Beneran kamu nggak nangis? Tapi kok matamu sembab gitu. Kalau ada masalah cerita donk ke Bunda, mungkin Bunda bisa bantu." ucap Bunda bijak.
"Nggak kok Bunda. Rhein nggak nangis. Tadi malam Rhein cuma nggak tidur aja." jelasnya.
"Lho, bukannya saat bunda tinggal ke kamar kamu udah tidur lagi? Sebelum kamu teriak itu."
"Itu kan cuma bentar, Bunda. Setelah itu Rhein nggak tidur lagi."
"Kenapa nggak tidur lagi?"
"Nggak tahu."
Saat Bunda mau bertanya lagi, Rhein dengan segera menyalami tangan Bunda dan cipika-cipiki untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan berikutnya dan segera pergi dari hadapan Bunda menuju sekolah.
"Bunda, Rhein berangkat dulu yah." pamitnya. Bunda hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anaknya yang tak suka dilempari banyak pertanyaan itu.

Matahari bersinar tak secerah biasa. Awan kelabu menutupinya, sehingga suasana pagi menjadi sejuk. Rhein jadi tak perlu khawatir membuka jendela mobilnya, menghirup udara pagi yang segar. Biasanya ia takut untuk membuka kaca mobil karena teriknya matahari pagi yang menyengat kulit.
Seperti biasanya Rhein diantar ke sekolah denga mobil sedan hitamnya dan mang Udin sebagai sopirnya. Pagi ini Rhein berangkat lebih awal, ia ingin melihat suasana sekolah di pagi hari, kilahnya saat Bunda bertanya. Padahal ia ingin tahu lebih banyak mengenai Gio dari Diora yang telah berjanji untuk memberikan informasinya pagi ini.
"Mang, ntar nggak usah jemput Rhein di sekolah, tapi di rumah Diora." pesannya sesaat sebelum turun dari mobil. Mang Udin hanya mengangguk tanda setuju. "Oh, iya mang. Ntar jemputnya maleman aja." Lanjutnya dengan senyuman di bibirnya. Kemudian Rhein  bergegas menuju kelas, tak sabar untuk menemui sahabatnya yang rela menjadi detektif baginya.
"Udah dapat infonya?" tanya Rhein setibanya di kursi sebelah Diora.
"Belum." menggelengkan kepalanya.
"Kok bisa??"
"Ya, bisalah." menghela nafas. "Gue udah tanya ke semua anak basket tapi nggak ada yang tahu rumah Gio di mana."
"Kayak tinggal di luar angkasa aja." Gumam Rhein.
"Hah.. Loe ngomong apa barusan?" 
"Ngomong apa?! Nggak ada." elaknya.
"Oh, iya loe udah ngerjain tugas bahasa Indonesia?" tanya Diora tiba-tiba.
"Tugas apaan?"
"Mengarang."
"Mengarang...." memutar otaknya untuk mengingat tugas apakah gerangan yang telah diberikan ibu Elie, guru bahasa Indonesianya tersebut.
"Maksud kamu tugas mengarang tentang lingkungan itu ya?" tanya Rhein memastikan.
"Yap."
"Kapan tugasnya dikumpul?"
"Hari ini."
"Hari ini?!"
"Yap. Sebelum bel harus udah terkumpul."
"Bel masuk?!" Diora mengangguk. "Ya, ampun. Tugasnya masih di rumah. Aku kira dikumpul besok. Duh, gimana nih?"
"Mana gue tau." mengangkat bahunya.

Teeeeeeeeeeeettt teeeeeeeeeeettt teeeeeeeeeeeeettt
Bel masuk bergema ke seluruh penjuru sekolah.
"Hah..." menepuk jidatnya. "Siap deh dimarahin bu Elie." Rhein pasrah.
Lima belas menit kemudian, bu Elie masuk dengan membawa setumpuk buku di tangannya. Rhein tak berani menatap wajah bu Elie, guru bahasa Indonesia yang termasuk jajaran guru killer di sekolah. Ia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Semua siswa juga tahu apa yang akan terjadi pada siswa yang tidak mengerjakan tugas daru guru yang satu ini. Bisa aja di jemur di lapangan sekolah dengan sikap hormat menghadap bendera. Apalagi jika selama 2 jam pelajaran, itu berarti 90 menit. Lumayan untuk program menghitamkan kulit.
Beberapa saat kemudian, setelah melihat-lihat hasil kerja murid-muridnya, bu Elie mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Detak jantung Rhein tak beraturan. Ia sangat ketakutan. Tiba-tiba...
"Ya, kita lanjut ke materi cerpen, cerita pendek. Buka buku kalian halaman 275. Rheinza, tolong bacakan ceritanya." ucap bu Elie.
"Hah?!!" lirih Rhein tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bu Elie bukannya menyuruh keluar kelas dan berjemur, malah membaca cerita. Aku lagi mimpi atau bu Elie yang salah minum obat pagi tadi. Lamun Rhein.
"Rheinza Arfandya!" panggil bu Elie setengah berteriak. "Kamu mendengar apa yang saya katakan?"
"I.. I.. Iya, Bu." Jawab Rhein gelagapan.
"Ya, sudah. Baca." ulang bu Elie.
"Baik, Bu."
Menit-menit kemudian dilalui Rhein dengan rasa kebingungan yang aneh dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Di kantin sekolah...
"Rhein, loe boong ya?"
"Bohong soal apa?" Rhein menghentikan sebentar kegiatan menggambarnya.
"Soal tugas tadi. Loe bilang ketinggalan, tapi kenapa bu Elie nggak ngehukum loe?"
"Memang ketinggalan kok. Aku juga bingung. Apa bu Elie salah lihat atau salah hitung yah?"
"Ah, nggak tahu deh. Tapi syukur juga, kamu nggak dihukum." Diora tersenyum tipis.
"Iya, juga sih." Rhein tersenyum dan kembali menggambar.
"By the way, loe lagi ngapain sih? Kok kayaknya serius banget." tanya Diora penasaran.
"Cuma coret-coret aja kok."
"Sini gue liat." Diora mengambil buku yang dipegang Rhein. "Siapa sih yang loe gambar ini?" tunjuk Diora pada salah satu gambar yang dibuat Rhein.
"Nggak tau." jawabnya singkat.
"Loh kok nggak tau. Kan loe yang ngegambarnya."
"Yah, itu kan cuma imajinasiku aja. Jadi mana aku tau itu siapa."
"Oh, gitu yah." mengangguk-anggukan kepalanya. "Kayaknya nih gambar familiar deh sama seseorang." Diora memiringkan kepalanya ke kanan. Berpikir.
"Siapa?"
"Hmm..." Diora tampak berkonsentrasi.

"Siapa, Diora?"
"Nggak tau. Tapi gue pernah liat." Wajahnya menengadah. "Di mana yah?"
Tiba-tiba Gio melintas di depan mereka.
"Nah, itu dia yang gue maksud. Wajah gambar ini mirip banget dengan wajahnya ...."
"Maksudnya Gio?!"
"Ya, Gio. Wajahnya mirip Gio."
"Kamu nggak lagi bercanda kan?!" menggoyangkan bada Diora sekuat tenaganya. "Mana mungkin aku ngegambar muka orang yang nyebeli kayak dia gitu."
"Nyebelin apa nyebelin?" goda Diora. "Tapi kok bisa yah, gambar yang loe buat mirip banget ma Gio. Jangan-jangan loe suka lagi sama Gio."
"Suka?! Kamu bercanda. Nggak mungkinlah. Deket aja nggak apalaig ada rasa suka."
"Jadi kalau udah deket bisa suka nih ceritanya." Diora semakin menjadi-jadi menggoda Rhein.
"Ya, nggak lah. Jangan sampai deh aku jadian sama dia. Ngeliat mukanya aja aku udah sebel. Apalagi kalau harus deket ama dia. Iiiihhh..."
"Ngeliat mukanya sebel, tapi ngegambar mukanya nggak, kan?!" Diora merasa menang bisa memojokkan sahabatnya itu. "Bener, kan?!!"
"Kamu apaan sih?" Rhein cemberut. "Kalau kamu terus kayak gini, aku pergi aja yah. Biar kamu makannya sendirian." ancam Rhein.
Saat Rhein baru saja mencoba berdiri, tiba-tiba tubuhnya diraih seseorang. Rhein tak sadarkan diri. Dengan segera Rhein di bawa ke ruang UKS.




(to be continued)

No comments: